PT BPR Jatim (Perseroda), dikenal dengan nama Bank UMKM Jatim, menyusun strategi pertumbuhan agresif namun terukur pada 2026, dengan menargetkan pertumbuhan kredit hingga 30%. Strategi ini didorong oleh inovasi produk, percepatan digitalisasi layanan, serta penguatan manajemen risiko sebagai fondasi utama pertumbuhan berkelanjutan.
Direktur Utama PT BPR Jatim (Perseroda), Irwan Eka Wijaya, menegaskan bahwa ekspansi bisnis Bank UMKM Jatim tetap berlandaskan prinsip kehati-hatian. “Pertumbuhan kredit menjadi fokus kami pada 2026, namun tetap kami jalankan secara terukur dengan manajemen risiko yang kuat. Bank UMKM Jatim berkomitmen menjaga kualitas aset sekaligus memperluas pembiayaan bagi sektor produktif dan UMKM,” ujarnya dikutip dari Media Online Kontan.
Dorong Kredit Produktif dan UMKM
Strategi pertumbuhan kredit Bank UMKM Jatim diarahkan pada sektor-sektor produktif seperti pertanian, perikanan, perdagangan, jasa, dan industri kecil. Pendekatan ini mempertegas peran BPR Jatim sebagai BUMD yang konsisten mendukung UMKM dan pelaku usaha daerah, terutama di wilayah pedesaan.
Menurut Irwan, fokus pada sektor produktif menjadi pembeda utama Bank UMKM Jatim dibandingkan lembaga keuangan lain. “Kami ingin memastikan pembiayaan yang disalurkan benar-benar mendorong aktivitas ekonomi riil dan memberi dampak langsung bagi masyarakat,” katanya.
Inovasi Produk: Kredit Emas
Salah satu strategi ekspansi yang diandalkan adalah pengembangan produk kredit emas. Produk ini mulai dipasarkan sejak semester II 2025 dan mendapat respons positif dari nasabah. Kredit emas dirancang sebagai alternatif pembiayaan yang aman sekaligus bernilai investasi.
Irwan menyebut kredit emas sebagai bagian dari diversifikasi portofolio. “Kredit emas kami kembangkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat terhadap instrumen pembiayaan yang lebih aman dan bernilai jangka panjang, sejalan dengan tren investasi emas,” jelasnya.
Digitalisasi Perbankan
Di sisi lain, Bank UMKM Jatim terus mempercepat digitalisasi layanan melalui pengembangan sistem e-loan, e-loss, serta layanan penghimpunan dana berbasis digital. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mempercepat pelayanan kepada nasabah.
“Digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan agar BPR tetap relevan dan kompetitif. Kami ingin layanan Bank UMKM Jatim semakin mudah diakses, cepat, dan efisien,” kata Irwan.
Manajemen Risiko dan Tantangan Konsolidasi
Dengan ekspansi kredit yang agresif, penguatan manajemen risiko menjadi prioritas utama. Bank UMKM Jatim mencatat rasio kredit bermasalah yang relatif terjaga dibanding rata-rata industri BPR nasional.
Selain itu, BPR Jatim juga mencermati kebijakan konsolidasi industri BPR yang didorong OJK. Irwan menekankan pentingnya kejelasan arah konsolidasi agar tidak mengaburkan segmentasi layanan BPR dan BPD.
“Konsolidasi perlu dilakukan secara hati-hati. BPR memiliki karakter dan segmen tersendiri, khususnya UMKM dan sektor rural, yang harus tetap dijaga,” ujarnya.
Optimistis Menyongsong 2026
Dengan kombinasi ekspansi kredit, inovasi produk, digitalisasi, dan manajemen risiko yang solid, BPR Jatim atau Bank UMKM Jatim optimistis menghadapi tantangan 2026. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus tumbuh secara sehat dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat perannya sebagai motor penggerak ekonomi daerah di Jawa Timur.



